MAKALAH
RIJAL AD DAKWAH
Dipersentasikan pada:
Mata kuliah
Ilmu Dakwah 2
Disusun oleh:
Abdullah al Faqih
Firman Syah
Sihabuddin
JURUSAN KOMUNIKASI & PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
Daftar Isi
Pendahuluan …………………………………………………………………………………2
Pembahasan ………………………………………………………………………………….
A. Sosok Rijal ad-Dakwah………………………………………………….4
B. Proses Pembentukan Rijal ad Dakwah…………………………………. 6
Penutup dan Kesimpulan……………………………………………………………………15
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………16
Pendahuluan
Menjadi si tikang-seru, juru Da’wah atau muballighul islam banyak memberikan pengertian, faham dan pegangan. Sepanjang perjalanan menempuh ridho Allah telah memperkaya diri dengan pengalaman, membajakan diri dengan keyakinan, malah mempertajam pemahaman.Menelan pahit getir, menempuh duri dan derita adalah resiko yang telah dijalani dengan hati yang ikhlas oleh seorang rijal al-Dakwah.
Tempo-tempo mendapat pujian dan sanjungan.Tempo-tempo dihempaskan oleh hinaan dan cacian.Kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Kegiatan berenang mengarungi dua gelombang, berjuang dan lalu ditengah dua-ufuk dunia yang bertentangan sanjungan dan ejekan, pujaan dan makian tak membuat padam api semangat api sang rijal al-dakwah dalam menegakkan kalimat-kalimat allah. Hanya satu kata bagi seorang rijal al-dakwah yaitu li i’lai kalimatillah.
Sorak sorai yang riuh gemuruh, tepuk tangan yang gagap dan gempita dari si orang banyak yang senang mendengar dan rela menerima. Diantara dua-ufuk itulah seorang juru dakwah atau muballiguhul islam lalu berjalan, melakukan tugas kepemimpinan perjuangan suci ini.
Dengan landasan surat al-Ahzaab ayat 39 yang berbunyi:
(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah , mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.
A. Sosok Rijal al-Dakwah
•
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang
Pembentukan rijalud dakwah atau kader-kader dakwah merupakan sesuatu yang mutlak untuk menggerakkan bangunan peradaban Islam yang kokoh yang melingkupi masyarakat Islam dan dunia.Sebuah bangunan yang kokoh yang membutuhkan landasan dan tiang-tiang yang kokoh pula.Tiang-tiang penopang masyarakat Islam adalah para kader dakwahnya.Namun karena tiang-tiang penopang ini adalah manusia dan bukan benda mati, maka penopangan yang diberikannya bersifat organis dan tidak kaku. Mereka tumbuh berkembang dan membentuk setrukturnya bersama-sama dengan perkembangan dan perubahan masyarakat.
Para kader dakwah ini memainkan peran sentral dan vital dalam menjaga dan mengawal umat menuju ketinggian cita-citanya, walaupun umat itu sendiri telah kehilangan kesadarannya dan telah berpaling dari cita-citanya mulia.Para kader dakwah terus saja bekerja sekuat tenaga membentengi umat ini agar tidak terjatuh ke dalam jurang neraka, walaupun umat terus saja menimpuki mereka dan mendesakkan diri kea rah kebinasaan. Mereka berusaha melakukan itu semua sebagaimana Allah juga telah melakukan hal yang sama terhadap mereka
•
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.( QS. Ali Imran 103)
Kader-kader dakwah selalu berada di barisan terdepan untuk melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya yang terang-terangan maupun terselubung. Mereka adalah ruhul jaded fi jasadi ummah, ruh-ruh baru di tubuh umat. Entah berapa malam yang mereka lalui, keringat yang mereka cucurkan, dan darah yang mereka alirkan untuk memikirkan dan membela nasib umat.Mereka tidak peduli walaupun umat yang tidak mengerti mencaci-maki orang-orang yang hendak menolongnya, karena mereka hanya menjalankan perinta Allah dan mengharap ganjaran-Nya. Mereka mencontoh Rasulullah SAW yang berdakwah untuk kebaikan kaumnya dan ketika mereka menyakiti beliau, sementara beliau punya kesempatan membalasnya, beliau malah berkata :
“Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya”
Tapi, dari manakah munculnya para kader dakwah ini? Apakah mereka muncul dari jalur panjang nasab yang turun-temurun?Tentu tidak.Mereka adalah orang-orang yang dikader secara khusus dan menimba ruh dakwah dari madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah.Mereka tidak muncul begitu saja tanpa usaha apapun, melainkan ditempa selama bertahun-tahun dan sepanjang hidupnya melalui pertemuan-pertemuan rutin dan kerja keras di lapangan.Mereka adalah perpaduan antara hidayah Ilahiyah dan Ikhtiar Tarbiyah.Bahkan para kader dakwah yang telah terbentuk ini kemudian berusaha mengkader keluarga mereka sedini mungkin.Mereka memilih calon-calon ayah dan ibu dari anak-anaknya yang juga memiliki visi dan semangat dakwah. Mereka mentarbiyah anak-anak sejak masih berada dalam kandungan sebagai upaya untuk melakukan “rekayasa genetic” bagi terbentuknya embrio-embrio da’I yang siap memimpin ummat dimasa depan.
Tarbiyah dan pembentukan kader dakwah terlalu vital untuk diabaikan, terlebih lagi dalam situasi umat yang begitu lemah pada saat ini. Pada hari ini, umat Islam telah mengalami disorientasi dalam hidup, mereka kehilangan daya juang, terjatuh dalam kelesuan berpikir dan beramal, terjerat dalam jebakan-jebakan politik, ekonomi, sistem sosial, dan pendidikan yang dirancang oleh musuh-musuhnya. Jumlah umat ini begitu besarnya, tetapi mereka melihat kocar-kacir dan berjalan sendiri-sendiri tak tentu arah.Mereka memegang kartu identitas keislaman tanpa adanya rasa identitas keislaman itu sendiri.
Kemudian setelah itu muncullah para kader dakwah yang telah tertarbiyah dengan baik ke tengah-tengah umat.Tak lama kemudian umat mulai menggeliat.Para kader dakwah tersebut berusaha menyatukan arus kekuatan umat, meluruskan orientasinya, mengorganisasikan, dan mensinergiskan seluruh potensinya menjadi sebuah gelombang dakwah yang menghentak dan mendobrak tembok-tembok kedzaliman dan kejahiliyahan.Itulah peran besar yang dimainkan oleh para kader dakwah manapun.Dan ketika gelombang kebenaran menghempas, maka mereka berdiri bershaf-shaf di garda terdepan.
Mereka berusaha membentengi umat sekuat tenaga agar tidak hanyut oleh pusaran kejahiliyahan.Tanpa peran para da’i sepanjang sejarah, serta izin Allah, mungkin bangunan ini sudah ambruk sedari dulu. Namun Allah berkehendak lain. Dialah yang menurunkan risalah terakhir bagi umat manusia dan Dia juga yang menjaganya lewat tangan-tangan para kader dan mujahid dakwah sepanjang masa.
B. Proses Pembentukan Rijal ad Dakwah
Sesungguhnya da'wah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya.Seharusnya kita mengakui, hal positif dan negatif dari manhaj teoritisnya yang dapat diambil pada buku-buku yang sudah disebarluaskan, bagaimana tingkat ketsiqahan anggotanya terhadap manhaj.Diantaranya adalah menganalisa suatu masalah, sebagaimana terlihat dalam sikap dan tindakan mereka.
Namun tindakan pribadi (fardi) juga berbagai pemyataan spontan atas berbagai masalah, hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan masyarakat secara umum. Sebab memang demikianlah tabi'at suatu pertumbuhan, yang juga erat dengan situasi kondusif yang mendukung prilaku tersebut. Di sini, akan kami paparkan contoh-contoh pribadi yang hendak dihasilkan Ikhwan melalui proses tarbiyah dan arahan mereka. Semua ini tentu saja terwujud setelah taufiq dari Allah swt.
1. Seorang Mujahid yang Menjadikan Da'wah sebagai Obsesinya
Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang dalam kondisi mempersiapkan dan membekali diri, berpikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berpikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam kondisi siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.
Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya.Berjihad di jalannya.
Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya.Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya.Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di balik perjuangan.
Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."
2. Da’i Yang Bergerak Karena Allah swt.
Adalah da'i yang berlari memohon syahadah kepada Allah swt .di saat melakukan tugas da'wah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi radhiallahu'anhu yang menda'wahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:
"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)
Ketika ia menyatakan diri masuk Islam, sekaligus menda'wahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.
3. Da’iyah yang Memiliki Semangat Tinggi
Anggota harakah Ikwan, harus mempunyai semangat tinggi sebagaimana semangat al-Aslami adhiallahu ‘anhu yang pernah diceritakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah : “Bila anda ingin melihat tingkatan semangat, lihatlah semangat Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami radhiallahu'anhu. Rasul saw. berkata: "Mintalah kepadaku." Ka'b mengatakan: "Aku ingin menjadi pendampingmu di.surga." Sementara orang lain ada yang meminta makanan dan pakaian.
4. Da'i yang Memegang Teguh Janjinya
Seorang akh, dibina untuk mengerti dan melaksanakan sikap shidiq, sebagai sikap mulia para sahabat ridhwanullahi'alaihim.Seperti kisah Anas bin Nadhr radhiallahu'anhu yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Bahwa Anas bin Nadhr, absen dalam peperangan Badar. Beliau mengatakan:
"Aku tidak ikut dalam perang pertama yang disaksikan Rasulullah saw. Bila Rasulullah kembali berperang melawan kaum Quraisy setelah Badar, niscaya Allah 'Azza wa Jalla akan memperlihatkan apa yang akan kuperbuat."
Di saat perang Uhud, ummat Islam menderita kekalahan. Seseorang berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz radhiallahu'anhu: "Wahai Sa'ad hendak kemana anda?" "Saya ingin menghampiri aroma surga di balik Uhud.'Sa'ad berangkat hingga syahid. Di tubuhnya terdapat lebih dari delapan puluh luka akibat pukulan pedang, tombak dan anak panah. Hingga jasadnya tak dikenal lagi oleh saudari perempuannya, kecuali melalui pakaiannya.
Lalu turunlah firman Allah swt. :
••
“Di antara orang-orang mu'min ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah janjinya.”
(QS. aI-Ahzab: 23)
5. Seimbang dalam Semua Kondisi
Ikhwan membina anggotanya agar memiliki sikap berani, namun tidak mengabaikan sikap hati-hati, jauh dari sikap sembrono dan emosional .Mungkin sedikit manusia yang.dapat seimbang melakukan hal ini. Seorang yang dibiasakan bersikap pemberani, selalu berusaha memutuskan seluruh rintangan yang mengikatnya.Mereka juga memiliki keta'atan tinggi yang diikat oleh kesadaran syar'i yang cermat, jelas, tidak serampangan dan bukan sikap mengikut buta.
Di sisi lain, anggota Ikhwan selalu memelihara potensi yang Allah anugerahkan pada dirinya. Seorang Ikhwan secara khusus mengerahkan semua kekuatannnya kepada seluruh yang mendatangkan manfaat kepada da'wah.Penyaluran potensi itu tidak dibiarkan tanpa kendali, tanpa arah dan tujuan yang jelas.Ikhwan senantiasa mengiringinya dengan langkah takhtith (perencanaan) matang.
6. Da'i yang komitmen terhadap petunjuk nabawi
Seorang da'i yang berjalan di atas jalur syari'at, tunduk kepada sunnah, menjauh dari prilaku bid'ah dan semua yang tidak diperintahkan .oleh Rasulullah saw. Tindak tanduknya, sebagaimana petunjuk hadits Nabawi.la mengambil agamanya dari mata air Islam yang jernih dan minum dari sumber keimanan.
Bila ditanya tentang prinsipnya, ia mengatakan: “Ittiba’”. Bila ditanya tentang pakaiannya, ia mengatakan: "Taqwa." Bila ditanya tentang maksud serta tujuannya, ia mengatakan: "Ridha Allah." Dan bila ditanya di mana ia menghabiskan waktunya di waktu pagi hingga petang, ia menjawab:
"Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang."
(Qs. an-Nur: 36)
Dan di medan da’wah serta mengembalikan manusia ke jalan al-haq. Bila ditanya tentang nasabnya, ia mengatakan:Orang tuaku adalah Islam. Tidak ada orang tuaku selainnya. Sementara orang bangga dengan keturunan Qais atau Tamim
7. Da’i yang Sabar
Ikhwan terbina dengan akhlaq sabar , sehingga di awal perj alanannya, salah seorang Ikhwan telah mengetahui apa yang diucapkan Ibnul Qayyim rahimahullah: "Sesungguhnya sikap untuk lebih mengutamakan ridha Allah, pasti akan berhadapan dengan permusuhan manusia, siksa, bahkan upaya mereka untuk membunuhnya. Yang demikian adalah sunnatullah di antara makhluk-Nya.
Bila tidak demikian, lalu apa dosa para Nabi dan Rasul yang memerintahkan keadilan di antara manusia dan menegakkan agama Allah ?" Maka barangsiapa yang lebih mengutamakan keridhaan Allah, niscaya ia akan memperoleh permusuhan dari orang alim yang jahat, manusia yang menyimpang, yang bodoh, pelaku bid'ah, yang banyak berdosa, dan penguasa bathil.
Barangsiapa berpegang teguh pada Islam secara sempurna, ia tak dapat digoyahkan oleh manusia bahkan gunung sekalipun. Tak dapat dihalangi oleh berbagai ujian., kekerasan dan rasa takut.
Mereka mengetahui bahwa kesabaran dapat dilakukan melalui dua perkara: tarbiyah atas sikap zuhud di dunia dan zuhud terhadap pujian. Tidaklah seseorang itu melemah, atau terlambat, dalam jalan ini, kecuali karena kecintaannya yang demikian besar pada kehidupan, kekekalan, serta kecintaannya pada pujian manusia dan upaya menjauhi kecaman mereka.
Jalan ini, bagi mereka, merupakan jalan yang pasti berhadapan dengan pendustaaan, pengusiran, dan siksaan, seperti ungkapan Ibnul Qayyim al-Jauzi rahimahullah: "Seseorang yang berlalu menuju Allah swt. adalah sebagai uswah. Dan itulah predikat yang sangat mulia.Seorang yang berakal cerdas rela beruswah kepada para Rasulullah, para Anbiya, Aulia, dan orang-orang yang dipilih Allah dari para hamba-Nya.
"Merekalah kelompok manusia yang paling berat ujiannya.Siksaan manusia terhadap mereka, lebih cepat berjalannya dari pada air mata. Cukuplah, contoh kisah yang disebutkan tentang perjuangan para Anbiya alaihimus salam bersama ummat mereka, juga perjuangan Rasulullah saw. Bagaimana siksaan musuh-musuh terhadap mereka.Siksaan berat yang belum pemah menimpa orang sebelum mereka."
Waraqah bin Naufal pemah berkata kepada Nabi saw.,"Engkau pasti akan didustai, diusir dan disiksa." Kemudian beliau bersabda: 'Tak seorangpun yang datang sebagaimana yang aku perjuangkan kecuali ia akan mengalami kondisi serupa dengan apa yang kualami."Hukum ini berlaku hingga kepada para pewaris-pewarisnya.Tidakkah seorang hamba ridha menjadikan hamba terbaik Allah swt.sebagai uswahnya.
8. Pemberi Infaq yang Tidak Kikir Terhadap Da'wahnya
Sebagaimana disifatkan oleh pemimpin mereka Imam Hasan al-Banna rahimahullah: "Mereka tidak kikir terhadap da'wah, meski harus mengeluarkannya dari jatah makanan anak-anak mereka, mengucurkan darah mereka, atau harga mahal untuk kebutuhan primer. Apalagi dari kebutuhan sekunder, dan keperluan yang tidak mendesak.
Mereka, tatkala menanggung beban da'wah ini, benar-benar mengetahui bahwa ia merupakan jalan da'wah yang tidak mungkin dilalui dengan sedikit pengorbanan darah dan harta. Maka mereka keluarkan hal itu seluruhnya karena Allah swt.
Singkatnya, seorang al-akh dari mereka tengah melakukan perjalanan menuju Allah swt.bersama kelompok al-haq dan kafilah tauhid. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keyakinan besar, para pendidik, manusia yang sadar, dan berpegang teguh kepada Islam, yang sedang mempersiapkan diri dengan ilmu, keahlian untuk berangkat berjihad.Masing-masing berlomba untuk bcrangkat, dan bila mereka berangkat mereka lakukan dengan penuh itqan.
Jika mengalami situasi sulit dalam peperangan, mereka bersabar. Mereka tidak akan rela hingga da'wah mencapai tujuannya. Meskipun mereka harus memeras seluruh kemampuan dan pemikiran mereka habis- habisan.
Bila mereka memberi perintah, perintah mereka kosong dari sikap memaksa.Dan bila mereka taat kepada perintah, ketaatan mereka terlepas dari sikap merasa hina.Bila mereka melontarkan kritik, kritik mereka jauh dari perusakan dan penghancuran.
Memiliki disiplin tinggi, teratur, para murabbi, perancang strategi menuju sasaran yang jelas, orang-orang teguh pendirian, komitmen, yang bila diberi amanah sebagai pemimpin mereka lakukan dengan ikhlash, jika diposisikan sebagai prajurit, mereka lakukan dengan penuh ketaatan.Setiap masing-masing mereka mampu berpikir untuk terus meningkatkan kemampuannya secara seimbang untuk selalu berupaya mengatasi masalah yang dilihatnya, mengambil hukum suatu pekerjaan dan aktivitas dari pikirannya.Mereka merasa bertanggung jawab untuk membela Islam.Puas dengan jumlah yang sedikit.
Dalam jiwa mereka terdengar sebuah prinsip yang begitu indah,
“Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat." (QS. ash- Shaff: 13)
Betapa mereka bekerja keras di waktu siang, betapa indahnya lantunan "seruling" mereka, yang mereka ambil dari keluarga Daud pada waktu sahur. Kemudian saat mereka berhadapan dengan orang yang bengis dan keras, perkataan mereka adalah:
•
Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (QS. Shaad: 11)
Mereka bertolak ke arah yang jelas, bergerak bersama sikap komitmen dengan ketaqwaan.Sumpah setia mereka sejati, ketaatan mereka bukan keterpaksaan tapi kesadaran, pandangan mereka penuh prhitungan, wawasan pemikiran mereka luas dan tidak sempit.Masing-masing berprinsip menjadi pendukung setia terhadap pemimpinnya, cita-cita mereka adalah bertemu dengan Rabb sebagai syuhada.Mereka memandang tanggung jawab syari'at sebagai penyejuk mata, penyenang hati, penghidup ruh, mencampakkan sistem thagut dan undang-undang yang bathil.
Para rijal yang selalu memerangi kehendak nafsu mereka.Hati mereka rindu pada ketaqwaan, merasa tenang dengan dzikir.Mereka mengetahui bahwa jihad adalah aplikasi kerahbaniyahan Islam.Karenanya mereka persiapkan diri dengan senjata, dan mereka hunus pedang, mereka bentangkan busur.
Mereka mengetahui bahwa arwah mereka akan kembali diantara penghuni kubur, mereka tinggalkan bangunan dunia, semangat mereka meninggi dan prilaku mereka menjadi lurus. Mereka adalah junudullah (tentara Allah) di manapun berada.
Mereka adalah para imam, pemberi petunjuk, dan pemimpin kaum beriman.Mata mereka sering terjaga di waktu malam, dan mata mereka kerap mengucurkan air mata.Berbahagialah orang yang berada dan berpegang teguh bersama mereka.
Para rijal yang komitmen dengan seruan Rasulullah saw, secara bathin dan zahir. Mereka berpendirian sebagaimana Rasul berpendirian.Mereka berjalan sebagaimana Rasul berjalan.Mereka ridha dengan keridhaan Rasul.Menyambut seruannya bila Rasul menyeru mereka.
Landasan madzhab mereka adalah al-Qur'an dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu, bid'ah, berpegang teguh dengan para imam dan berqudwah pada para salaf. Meninggalkan perbuatan bid'ah, berpendirian diatas apa yang ditempuh para generasi awwalun dari para sahabat, pembela Islam, sumur keimanan, inti sikap ihsan.Pengetahuan mereka murni mengambil dari misykat wahyu dan hadits Rasulullah saw.
Para rijal yang meyakini bahwa mempelajari ilmu ikhlash karena Allah dapat melahirkan khasyiah (ketakutan), sehingga menuntut ilmu merupakan ibadah, mudzakarah mereka adalah tasbih, pembicaraan mereka adalah tentang "jihad" .Mereka menuntut ilmu hingga terkuaklah hijab yang menyelimuti hati mereka, sirna kegelapannya, berganti dengan fajar tauhid dan terpancar di dalamnya matahari keyakinan.
Jalan di hadapan mereka menjadi terang benderang, malamnya laksana siang.Hati dan jiwa mereka bangkit memperoleh al-Haq, dan meninggalkan selain-Nya.Terlepas dari semua iradah mereka.
Penutup dan kesimpulan
Alhamdulilah dengan selesainya makalah ini agar bagi para pembaca dapat lebih tergerak hatinya untuk memperjuangkan kalimat Allah SWT yang telah diwhyukan kepada sosok rijal al-Dakwah yang paling hebat dan sempurna yakni Nabi Muhammad saw. Dan dengan mengetahui proses yang handak dimiliki dan ditanamkan dalam hati rijal al-Dakwah yang talah dibahas didalam makalah ini menjadikan sedikit acuan untuk membukan hati para mad’u yang sangat ragam dan unik. Sebagai landasan kami penulis yakni:
•
.Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha mengetahui segala yang ghaib".
Katakanlah: "Jika aku sesat Maka Sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk Maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Dekat".
Daftar Pustaka
K.H.M. Isa Anshari, Mujahid Dakwah. Cv diponogoro. Bandung 1991
Ihya Ulumudin. Darul kitab al-alamiyah Bairut hlm 36
(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Dasar-dasar Ilmu dakwah 2 Abdul Karim . Meia dakwah Jakarta Pusat 1983
Imam Habib al-Haddad al-Dakwah al-tammah kelengkapan dakwah. Toha Putra Semarang 1980
Imam al-Maturidi.Qomi’ al Tughyan. Al-haromain hlm 45