Jumat, 14 Januari 2011

gelobalisasi

Globalisasi mempunyai banyak pengertian yang berbeda, era globalisasi biasanya ditandai oleh kemunculan teknologi yang canggih, informasi yang cepat sampai, dan tidak menjadi sebuah rahasia lagi bahwa globalisasi adalah bentuk pemaksaan atas penghegemonian satu budaya saja. Hegemoni di dalam globalisasi tentu mempunyai tujuan untuk memukul ratakan kebudayaan. Negara yang lebih banyak ide dan mempunyai andil banyak dalam permasalahan politik, ekonomi dan militer tentu adalah Negara yang penghegemoniannya paling berhasil. Globalisasi juga diartikan sebagai masa yang serba instan, artinya segala kegiatan manusia yang awalnya butuh banyak factor pendukung, dengan adanya globalisasi maka aspek pendukung yang tadinya berperan dalam pelaksanaan kegiatan menjadi semakin ditinggalkan. Karena basis dari pada globalisasi itu sendiri adalah teknologi. Sebagai masyarakat diseluruh dunia dikenal adanya dua istilah yang dinamakan dengan UTOPIAN dan DISUTOPIAN. Utopian dikenal sebagai madzhab yang mengatakan bahwa globalisasi adalah sebuah nilai positif, dan mereka optimis dengan datangnya globalisasi. Saah satu tokoh media yang bernama Mechluhan adalah yang setuju dan mendukung sepenuhnya dengan kedatangan globalisasi. Bersebrangan dengan Mechluhan sebagai kaum utopian adalah disutopian. Herberd Siller merupakan salah seorang yang mengatakan bahwa globalisasi tidak lain adalah sebuah penjajahan atas budaya, hegemoni dengan budaya barat dan monoculture kapitalisem. Dengan demikian Dia berasusi bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negative dan pesimis atas kedatangan globalisasi. Ketergantungan atas negara lain merupakan salah satu cirri dari globalisasi tersebut. Dan harus di ingat bahwa globalisasi bukanlah merupakan hal yang baru. Homogenisasi juga menjadi salah satu cirri lain dari globalisasi. Adapun efec yang timbul dengan adanya globalisasi yaitu imperialism, global English, mass transportation, development of technology communication, keluarnya satu budaya sampai pada tempat lain, dan radiospes. Untuk itu mau atau tidak, diterima atau tidak manusia diseluruh dunia akan mengambil dan mengikuti globalisasi tersebut. Bahkan ketika Cruth (NIRVANA) mencoba melawan dari monoculture capitalism dengan mengeluarkan album pertama dan keduanya di tuduh sebagai salah satu plopor dari kapitasi itu sendiri. Karena album dan lambing nirvana itu sendiri meledak dan disukai oleh masyarakat dunia. Dan pada akhirnya, Cruth bunuh diri sebagai perlawanan dari kapitalisme.

Senin, 22 November 2010

ski abstrak

ABSTRAK
Eksistensi Globalisasi Bertahan dan Punahnya Budaya
Komunikasi Sebagai Proses Budaya
Nama : Abdullah al-Faqih Dosen : M. Yusfik. MA
Nim : 108051000182
Dirasakan atau tidak, bahwa manusia saat ini telah memasuki sebuah masa yang dinamakan dengan globalisasi. Semakin berkembangnya kecanggihan teknologi membuat masa ini semakin kompleks. Namun tidak sedikit dari sebagian orang menyatakan pro dan kontra atas paradigma globalisasi. Utopian adalah golongan yang menyambut globalisasi sebagai masa pencerahan dan kemajuan, setra kebangkitan dari ketertinggalan informasi. Tetapi bertentangan dengan pendapat utopian adalah disutopian, mereka berpendapat bahwa globalisasi tidak lain adalah sebuah pembunuhan karakter dan budaya bangsa atas penyeragaman dari hanya satu budaya tertentu. Dengan melihat kejadian diatas. Bagaimana eksistensi globalisasi terhadap budaya? Apakah yang ditimbulkan oleh globalisasi terhadap budaya? Apakah ada cara untuk membendung laju globalisasi? Apakah yang harus dilakukan manusia agar tetap dapat mempertahankan budayanya di era globalisasi? Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Toeri cultural universal adalah sebuah penjelasan mengenai kebudayaan secara operasional yang dilihat dari isinya. Eksistensi globalisasi memang menimbulkan banyak penafsiran. Terlebih bagaimana dampaknya pada kebudayaan. Sulit dipungkiri memang jika kita bisa hidup mandiri tampa tersentuh keranah globalisasi yang akhirnya akan mengikis sedikit demi sedikit kebudayaan kita sebagai bangsa yang beraneka ragam budaya. Globalisasi tak luput dari penyeragaman budaya dan ini yang akhirnya akan menimbulkan pencampuran budaya atau yang lebih dikenal dengan akulturasi budaya. Tentu ada cara untuk mensiasati diri agar tetap mempertahankan budaya sendiri yaitu dengan berusaha mengenali budaya sendiri lalu melstarikannya. Globalisasi tentu tidak hanya berdampak negatif pada kehidupan tetapi juga membawa kemudahan dalam setiap aspek seperti teknologi dan informasi yang akurat. Budaya adalah asset yang tidak ternilai harganya dan harus terus dijaga kelestariannya. Pendapat dari orang postmo yaitu tidak ada narasi absolute dapat sedik membantu kita agar tetap bertahan pada budaya kita dan ambil sesuatu yang positif dari globalisasi. Keywords: Globalisasi, Kebudayaan, Akulturasi Budaya, Postmo,

Jumat, 19 November 2010

SURAT BEASISWA ABIB

Lampiran : Berkas
Perihal : Permohonan Beasiswa

Kepada Yth:
Pimp. Lembaga Pemberi Beasiswa

Assalamu’alaikum Warohmatuloh
Dengan hormat,
Bersama ini saya sampaikan bahwa saya adalah mahasiswa yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulloh Jakarta, Fakultas Syariah dan Hukum. Jurusan peradilan Agama (PA Reguler) Semester V (lima). Saat ini saya bertempat tinggal bersama orang tua di jalan Nurul Huda Rt 04 Rw 02Desa Curug Wetan, Kecamatan Curug Kabupaten Tanggerang Banten
Sehubungan kebutuhan akan peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan sarana pendidikan, maka saya memberanikan diri untuk mengajukan permohonan beasiswa kepada lembaga pemberi beasiswa ini dan berkenan memberikan bantuan. Demikian surat permohonan ini saya buat. Atas perhatiannya terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warohmatulloh


Bekasi 01 Juni 2010
Hormat Saya


Siti Irma Khoirunnisa

PROPOSAL
BANTUAN BEASISWA
A. Pendahuluan
Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan dari kemerdekaan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun sejak beberapa dekade lewat tujuan ini telah mengalami pergeseran. Setidaknya terlihat dari agenda pembangunan yang telah digariskan oleh para pemimpin bangsa, dimana penciptaan sumber daya manusia melalui pendidikan masih sangat lemah, jika dibandingkan dengan sektor-sektor lain. Akibat dari pada itu semua terlihat dari lemahnya SDM anak bangsa. Apalagi mereka yang berada di luar pulau jawa. Padahal potensi yang dimiliki baik dari SDM maupun sumber daya alam (SDA) sangat besar, yang pada akhirnya menjadi terabaikan, selain di habis dieksploitasi oleh pihak lain, juga akibat SDM di daerah yang kehilangan potensi berkembang karena terbentur biaya pendidikan
Seorang pemimpin seluruh Ummat didunia juga telah berkata bahwasanya: menuntut ilmu adalah wajib bagi laki-laki dan perempuan dari semenjak lahir sampai masuk keliang lahat. Dan dalam keterangan lain juga disebutkan bahwa: tidak dikatakan seseroang beriman sehingga mereka mencintai saudaranya (manusia) sepertihalnya Dia mencintai dirinya sendiri.
Diantara posisi daerah yang besar sebagai cikal bakal daerah yang maju adalah memiliki sumber daya alam yang besar dan letaknya yang setrategis. Begitu juga dengan kabupaten Tanggerang yang sangat kaya akan keadaan alamnya dan juga industri yang letaknya setrategis sangatlah berpotensi untuk menjadi daerah yang maju. Selain itu Tanggerang kian banyak industri yang kian maju dan sukses. Tentunya dengan ditopang oleh sumer daya manusia (SDM) itu sendiri dapat menjadikan kemajuan yang pesat dan banyak melahirkan tenaga handal yang berpotensi memajukan perindustrian di Indonesia. Inilah betapa pentingnya pendidikan bagi cikal bakal penerus bangsa yang akan menjadikan negara Indonesia mampu berkaca di dunia internasional, dan dengan potensi kekayaan alam yang tumpah ruah.
Pengembangan sumberdaya manusia (SDM) adalah suatu upaya untuk menambangkan kualitas dan kemampuan suber daya manusia yang kretif dan bermutu, agar mampu mengolah sumber daya alam dengan baik dan dapat digunakan untuk mensejahterakan masyarakat sebagai inti dari tujuan pembangunan itu sendiri.
Selanjutnya dengan peranan para dermawan baik individual maupun lembaga pemberi beasiswa itu sendiri, memberikan dukungan yang berupa materi agar putra-putri bangsa menjadi regenerasi yang kelak akan ikut mengharumkan Indonesia dengan potensi SDM yang handal, berpotensi, ikhsan, dan menjunjung tinggi norma-norma agama.
Atas dasar tersebut saya sangat mengharap bantuan berupa beasiswa demi terwujudnya cita-cita dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup semua manusia. Karena “sebaik baik manusia adalah mereka yang dapat bermanfaat bagi orang lain”.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari permohonan beasiswa ini disebutkan sebagai berikut:
a. Untuk meringankan beban orang tua dan menjadikan saya seorang pribadi yang mandiri.
b. Memacu daya saing untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kemampuan dalam mengembangkan potensi yang ada dalam diri
c. Perbaikan sarana penunjang belajar, penyemangat dalam menggapai prestasi
d. Sebagai wujud partisipasi dari lembaga pemberi beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi dalam akademik ataupun lainnya.
C. Estimasi Biaya Pendidikan
No Uraian Jumlah
1 Pembayaran SPP/ semestar Rp. 1.450.000,-
2 Pembelian Buku wajib dan penunjang Rp. 1.000.000,-
3 Tugas Terstruktur Rp. 300.000,-
4 Biaya Tempat Tinggal (KOS) Rp. 1 .600.000,-
5 Transportasi Dan Kebutuhan Rp. 200.000,-
6 Dana Taktis Rp. 1800.000,-
Jumlah Keseluruhan Rp. 4.730.000,-
Terbilang : Empat Juta Tuju Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah






D. Lampiran-lampiran
 Transkip Nilai Semester I, II, III, IV
 Surat Keterangan Aktif Kuliah & Kelakuan Baik
 Daftar Riwat Hidup
 Foto Copy Kartu Keluarga
 Karya Tulis Ilmiah (Emansipasi Wanita Menghadapi Abad 21 dan Masa Depan Islam di Indonesia)
 Surat Keterangan Permohonan Beasiswa dari UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta
 Foto Copy Kartu Mahasiswa (KTM)
 Foto Copy Katru Tanda Penduduk (KTP)
 Foto Copy Sertifikat & Paiagam Penghargaan
 Foto Copy Rekening BANK Mandiri & BRI

E. Penutup
Demikian proposal ini saya ajukan dengan harapan dapat dipertimbangkan dan disikapi sebagai mana mestinya. Atasperhatiannya saya ucapkan terima kasih.










Tanggerang 21 November 2010
Hormat



Siti Irma Khoirunnisa
Nim (108044100061)

Selasa, 02 November 2010

abstrak

Komunikasi Sebagai Proses Budaya
Media Televisi Membentuk Karakter, Identitas Bangsa
ABSTRAK
Nama : Abdullah al-Faqih Dosen : M. Yusfik, MA
Nim : 108051000182 Mata Kuliah: SKI
Dirasakan atau tidak kemunculan televisi yang beredar di masyarakat kini mulai membuat sebagian kita kehilangan identitas dan lupa akan jati diri sendiri sebagi bangsa yang mempunyai aneka ragam budaya. Terbukti, banyak generasi muda kita yang akhir-akhir ini banyak melakukan prilaku menyimpang yang secara garis besar, perilaku menyimpang tersebut diadopsi dari televisi. Meskipun begitu, di sisi lain televisi juga mempunyai fungsi sebagai penyedia informasi dan edukasi yang aktual dan mendalam. Dengan demikian, Bagaimana caranya agar masyarakat Indonesia tetap mencintai budaya sendiri? Apakah dampak yang terjadi apabila masyarakat telah meningalkan budayanya sendiri? Apakah pemerintah juga ikut bertangungjawab dengan mengontrol tanyangan yang ada di televisi? Dan Siapakah yang mempunyai peran penting agar generasi muda dapat membedakan antara budaya asli sebagai identitas diri dengan budaya asing? Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya (Koetjaraningrat,1997)”. Dan kebudayaan adalah sebagai ciri khas dari suatu bangsa. Nationalism atau Tribalism adalah teori yang digunakan yaitu suatu kelompok atau masyarakat yang ingin membangun bangsanya atas dasar ikatan suku. Lawan dari nationalism atau tribalism adalah universalism atau internationalism yaitu kelompok atau masyarakat yang menghendaki pembaruan dalam suatu Negara. Masyarakat Indonesia adalah kebanyakan mempunyi sifat untuk ingin meniru sesuatu yang baru, memiliki karakter yang heterogen. Meskipun komunikasi lewat televisi adalah jenis komunikasi yang satu arah” ketika sesuatu yang dimunculkan oleh televisi adalah bersifat trend center. Maka, semakin besar keinginan mereka untuk mencobanya. Ironisnya masyarakat kini sukar membedakan mana yang bisa diterapkan di lingkungan sekitar dan yang mana yang seharusnya ditinggalkan karena menyimpang dari norma-norma yang ada dimasyarakat. Solusi agar masyarakat kita tetap mencintai budaya sendiri adalah dengan cara memperkenalkan lebih dalam tentang beragam budaya yang dimiliki oleh Bangsa kita dan dengan menerapkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat disetiap aktifitas. Dengan demikian, kita bisa mengadopsi budaya asing dengan tampa mengeyampingkan norma yang berlaku dalam masyarakat sebagai pondasi akar budaya kita. Jika masyarakat telah mengenyampingkan budaya sendiri dengan mengambil budaya asing tampa adanya filterisasi dalam diri sendiri. Maka, mereka sesungguhnya telah melakukan tindakan yang menyimpang dan secara tidak langsung meruntuhkan benteng Negara yang sejak dahulu telah dibangun oleh pejuang dan leleuhur. Pemerintah seharusnya juga ikut serta dalam mengembangkan dan memperkaya budaya yang telah ada. keikut sertaan pemerintah dalam menjaga budaya tentu sedikit banyak memberi pengaruh terhadap mati dan berkembangnya budaya. Dengan mengikuti dan mengontrol tayangan televisi misalnya dengan lebih memperhatikan LSF (lembaga sensor Film) dalam menjalankan tugasnya. Selain pemerintah, keluarga adalah yang tentu mempunyai peran yang sangat penting dalam memonitoring generasi muda. Sebab, keluarga merupakan orang yang terdekat dan mempunyai pengaruh yang besar dibandingkan lainya, termasuk juga lingkungan dan patner bermain. Keywords : kebudayaan, Televisi, Norma-norma, Pemerintah, Keluarga.

Senin, 11 Oktober 2010

pidato baru ulin

Alhamdulillahi robbil alamin. Nahmaduhu bijami’il mahamid, kulliha uddal kalam. Ala jami’I niamihi kulliha ma alima minha wamalam ya’lam. Wa nasykuruhu subhanahu wa taala ala ayyadihi wa ikhsanihi ma khosso minha wa a’mm. wa sholatu wassalam ala sayyidina wa habibina wa syafi’ina muhammadun al makhsusu biakmalil kamalatz wa syafaatil udzma min ilahil kirom. Ammaba’du
Yang terhormat dewan juri yang semoga ridha allah selalu melengkapi segala apa yang hendak di kerjakan amin, yang saya khormati rijalud dakwah yang insya allah pada hari ini, esok dan seterusnya selalu mendapat kasih sayang dari pangeran penguasa alam dunia dan akhirat.
Pertama wajib kiranya bagi kita umamul muslimin mengucapkan syukur atas limpahan rahmat dan nikmat, baik nikmat yang terlihat oleh panca indra dan nikmat yang tidak terlihat oleh mata dan dengan kedua nikamat itulah kita termasuk dalam golongan ummat nabi Muhammad yang mendapat jaminan atas syafaatul udzma beliau kelak dimana ummat manusia berada disuatu keadaan yang tiada satupun pertolongan yang dapat menolong kita keculi dengan syafaat al-Mushtofa, nabi yang mempunya pridikan “the best of gender”.
Hadirin wal hadirot ummat pilihan yang berbahagia.
Kita tentu menyadari bahwa zaman sekarang adalah zaman yang penuh dengan persaingan. Bukan hanya persaingan merebut kekuasaan dan tahta tetapi juga persainagn antara manusia dengan teknologi. Menurut sebuah buku yang berjudul” culture of tekhnologi seorang pakar besar bernama Mechlukan mengatakan bahwa “ kita tidak dapat menghentikan laju dari pada teknologi” don’t stop to progress of technology. Ini berarti semakin berkembangnya teknologi maka semakin manusia itu sendiri tereliminasi dan menjadi pengangguran. Memang benar. Mau tidak mau, sadar tidak sadar bahwa kemunculan teknologi adalah ibarat dua sisi mata pisau. Dimana dapat berguna dan juga tatkala dapat membahayakan. Lantas bagai mana jika generasi muda kita, seorang rijalud dakwah atau kader dakwah masa depat dapat membagun Negara ini menjadi Negara yang sakinah mawaddah warohmah.
Pertanyaan nya adalah dengan apa kita bisa menjadikan Negara ini sebagai Negara yang mampu tampil dimata jendela dunia sebagi Negara yang terpandang. Tentu tidak lain dan tidak bbukan adalah tugas berat dan PR bagi para penerus bangsa yaitu adalah kita semua.
Rosululloh telah bersabda. Bahwasanya “syaruful insane bil ilmi wal adab”
Yaitu kemuliaan seorang manusia adalah dengan ilmu dan dengan akhlaq. Dan tentu bukan jalan yang gampang untuk menjadi manusia yang berilmu. Betul atau tidak????
Untuk menjadi manusia yang terhormat dengan ilmu tentu harus memperhatikan beberapa factor berikut.
Yang pertama adalah “seorang guru atau ustadz yang mengerti betapa pentingnya pendidikan akhlak. Sebab tidak sedikit manusia yang berilmu tetapi tidak berahlak. Dan tat urung meraka sombong dengan keilmuanya dan menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang menurut persepsi mereka adalah benar. “Naudzu billahi minnnnnnnn dzalik (nua harus berkomunikasi dengan penonton)…… dalam sebuah qissoh diceritakan bahwa ada seorang anak raja yang di titipkan kepada seorang kiyai untuk didik ilmu. Kemudian setelah berada dalam naunagn kiyai tersebuat si anak tadi setiap usai mengaji di pukul oleh kiyainya. nahhh akhirnya si anak berfikir wahh ini gag beres nihh pada hal saya tidak melaukan kesalahan apapun tetapi saya selalu dipukul. Wal hasil timbul sikap “khiket” atau dendam. Inilah bahayanya sikap khiket. Kata sianak “ awas tunggu saja kalu saya sudah besar akan saya balas perlakuan ini. Kemudian setelah anak ini besar dan mewarisi kedudukan bapaknya yakni menjadi seorang raja. Anak itu teringat dengan kiyainya yang selalu memukulinya. Akhirnya di panggil tuh kiyai. Kata kiyai ada apa cung, kalu bahasa sininya tole nah kalo bahasa jakartanya coy, kata si anak tadi pak kiyai, saya dulu sering sekali dipukuli padahal saya tidak berbuat salah. Ohhhh kata kiyainya kamu pengen tau kenapa saya memukuli kamu padahal kamu tidak salah??? Kata si anak iya saya mw tau alasannya!!!! Saya memukuli kamu karna saya tau kamu akan menjadi seorang raja, dan saya ingin member tau kepada kamu agar kamu tidak berbuat senonoh dan semau kamu kepada rakyatmu yang berbuat salah…akhirnya si anak tadi mengerti bahwa menghukum orang lain padahal orang lain tidak bersalah adalah sakit rasanya. Inilah yang di maksud pentingnya pendidikan akhlak. Tetapi ini malah berbanding terbalik dalam Negara kita. Orang lain yang bertindak korupsi menghabiskan uang rakyat, mengeruk kekayaan negri justru malah mendapat hukuman yang ringan dan tidak banyak mereka masih bisa tidur dikasur yang empuk dan ruangan ber AC sementara maling ayam digebukin ampe mati. Masya allahhhhhhhhh.
Hadirin dan dewan juri yang dimuliakan allah
Yang kedua adalah seorang murid yang mempelajari ilmu dan memanfaatkan ilmunya dengan baik. Dan syarat untuk mendapat ilmu yang bermanfaat yaitu mau untuk bersusah payah. Dalam sebuah makolah dikatakan
Man la yadub dzullal ta’alimi saatan # tajarrudil dzillil jahli fi khayatihi.
Barang siapa yang enggan kekusasahan dalam ta’alum, maka ia akan merasakan kebodohan selama hidupnya. Karena apa????? Al insan min khaisu yasbut la min aina yanbut. Manusia itu dilihat dari tempat ia tumbuh bukan dari mana ia dilahirkan.
Para hadirin yang semoga disidhoi Allah
Ingat ilmu adalah yang bisa mengangkat manusia pada derajat kemualian Allah SWT berfirman:
Yarfaillahul ladzina amanu minkum walladzina utul ima darojatz. Keimana dan keilmuan seseorang sungguh akan membawa manusia pada derajat yang tinggi disisi allah dan manusia.subhanaulohhh. dan ilmu dapat menjadikan manusia itu mulia setelah ia duduk.
Dalam hadis dikatakan:
Libasukum yukrimukum qoblal julus wa ilmukum yukrimukum ba’dal julus.
Ini adalah yang telah terjadi oleh dahulu seorang perdana fietnam yaitu WHO CHIN MIN. dulu ia pernah sebelum berpidato hanya memakai celana pendek, kaos dan sandal jepit. Tentu rakyatnya tidak menyangka dia adalah pemimpin yang hebet. Tetapi apa yang terjadi ketika memberikan pidato diatas mimbar semua rakyatnya tercengan denga keilmuan yang disampaikan. Ini membuktikan bahwa dengan ilmu manusia akan mulia dan hebat.
Dari I’tibar penjelasan ini saya berpesan kepada seluruh ummat islam didunia generasi muda penerus perjungan islam untuk menjadikan Negara kita sebagai Negara yang terpandang dimata dunia dengan ilmu. Man arodad dunya fa alaihi bil ilmi waman arodal akhiroh fa alaihi bil ilmi waman aroda humaaaa fa alaihi bil ilmi. Kurang lebihnya saya mohon maf kalo ada kesalahan itu dari say pripada dan sesungguhnya kebenaran adalah datang dari Allah SWT.
Waulohul muwafiq ila aqwamith thoriq wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Senin, 10 Mei 2010

pidato ulin

Assalamualaikum warohmatulloh
Untaian puji dan syukur terucap dari hamba yang selalu mengharapkan barokah disetiap kenikmatan yang tak henti-hentinya engkau tebarkan kepada seluruh mahluk diseluruh penjuru dunia. Tampa ada yang terlewatkan satupun dari sekian banyak mahluk yang ada dijagad alam semesta.
Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepangkuan paha mulia mu ya Rosulalloh. Dengan sholawat dan salam yang kami selalu ucapkan baik pada saat sholat dan di luar sholat, hanya dengan harapan mendapatkan syafa’atul udzma engkau kelak di yaumil qiyamah. Sebab tiada satu nabi pun yang dapat mensyafati ummatnya kecuali engkau rosululloh. Dan nanti di padang mahsyar itu manusia dikumpulkan menjadi satu tempat di tengah terikmatahari yang letaknya hanya sejengkal dari kepala dan sangat panas, manusia berhamburan berlari meminta syafaat kepada nabinya masing-masing. Berlari kepada nabiyulloh musa beliau menjawab nafsi-nafsi, berlari lagi kepada nabiyulloh isa nabi isa menjawab nafsi-nafsi, berlarilagi kepada nabiyulloh daud, nabiyulloh sulaiman, nabi yulloh ishak mereka menjawab nafsi-nafsi. Tetapi dari kejauhan seorang manusia dengan wajah yang indah nana gung melambaikan tangannya dan berkata yaaa ummati anal aha anal aha. Wahai umat ku kemarilah kemarilah akulah orang yang dapat mensyafaati engkau akulah orang yang diberi izin oleh allah untuk mensafaati engkau. Oleh karena itu ummat islam yakin pada hari kiyamat nanti hanya dengan sholawatlah yang dapat menyelamatkan mereka dari kesusahan dipadang mahsyar.
Hadirin wal hadirot ummat pilihan yang berbahagia.
Seiring perkembangan zaman yang semakin canggih tatkala manusia disibukan dengan dua urusan yang hendak diraihnya antara kebahagiaan didunia dan diakhirat. Perkembangan teknologi yang semakin memudahka manusia dalam segala aktifitasnya justru tampa disadari dapat menjadi boomerang dan malapetaka yang semakin diresahkan keberadaannya oleh masyarakat.
Dirasakan atau tidak teknologi bagaikan 2 sisi mata uang yang mempunya nilai totalitas yang berbeda. Disatu sisi teknologi dapat mempermudah pelajar untuk mendapatkan impormasi dan ilmu pengetahuan yang lebih yang tidak merek dapatkan dibangku madrasah. Tetapi disisi lain juga teknologi menjadikan para pelajar untuk bertindak tidak senonoh dan menghancurkan moral bangsa. Inilah yang saya sebut dengan 2 nilai totalitas yang apabila dimanfaatkan dengan baik maka akan baik tetapi apbila sebaliknya maka akan menimbulkan mahdorot yang besar dan keluar dari nilai-nilai syariat.
Dalam alquran Allah SWT berfirman.
Wa Asaulohu anyakuna syaian fahuwa khoirullahum wa asa ayyakuna khoiron fahua syarrul lahum.
Hadirin wal hadirot yang dimulyakan allah.
Islam adalah agama eskatologis. Agama yang sangat memerintahkan atas bertanggung jawab atas segala tindakan kita. Dalam al-Qur’an juga Allah berfirman:
Qullukum roo’in wa qullukum mas’ulun al roo’iyatihi.
Ini menunjukan bahwasanya begitu besarnya eksistensi islam atas tindakan ummatnya.
Belum lama kita dikejutkan sebuah trobosan yang cainggih. Sebuah terobosan seorang mahasiswa yang menjadikan kecanggihan internet sebagai situs jejaring social atau pertemanan yang kita kenal dengan facebook. Kalaulah kita liat dari sisi fositifnya berapa ratus pelajar yang benar-benar memanfa’atkan facebook untuk berbagi informasi dan keilmuan dengan sahabatnya. Tetapi berapa ratus juta para pelajar yang menggunakan face book untuk melakukan tindak criminal dan kejahatan. Dan berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia untuk berfacebook riya?? Padahal apabila waktu yang begitu banyak hilang apabila digunakan untuk membaca dan mengulang pelajaran disekolah saya yakin lebih dari cukup waktu akan lebih bermanfaat. Dan akhirnya belom lama kita melihat ditelevisi banyak sekali pelajar yang tidak lulus dalam ujian nasional.
Untuk apa masyarakat berdemosntrasi disana sini merusak berbagai pasilitas sosial menggemborkan system pendidikan yang salah, seistem pendidikan yang buruk dan sisitem pendidikan yang hanya menghancurkan sekian juta cita-cita pelajar. Padahal mereka enggan mengoreksi apa yang menjadikan ketidak lulusan meningkat hingga 10%. Itu semua tidak lain dan tidak buka karena kurangnya minat belajar dari siswa itu sendiri dan dari orang tua yang tidak sama sekali memperhatikan anak-anaknya. Sedang apa anak didepan komputar? Sedang belajarkah atau sedang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tiada sama sekali manfaat didalamnya.
Rosululoh berpesan dalam sebuah hadist
Idza arodu antafalan syaian fakabbir akibatahu
Yang artinya apabila engkau hendak melakukan sesuatu maka pikirkanlah akibat dari perbuatan mu tersebut.
Dari hadist diatas dapat kita ambil benang berah bahwasanya ketika kita akan bertindak maka akibat dari tindakan itulah yang harus kita perhitungkan. Kita yang menanam maka kita pula yang akan menuainya.
Betul ataul tidak???
Oleh karena itu saya menghimbau bagi para pelajar hususnya dan bagi para orang tua mari kita bentengi dirikita dengan ilmu pengetahuan terlebih dahulu agar dapat memilah dan memilih mana yang lebih banyak manfaatnya dan mana yang benyak mahdorotnya. Awasi dan control anak-anak kita agar tidak masuk dalam pergaulan bebasa yang kian tampa batas akibat kecanggihan teknologi. Dan jadikanlah teknologi sebagai alat bantu penunjang keilmuan pelajar.
Akhirul kalam aswaja berpesan
Jaldul masoleh watarkul mafasid. Ambil yang bagus dan tinggalkan yang buruk.
Waulohul muafiq ila aqwamith thoriq wassalamualaikum …..

Jumat, 09 April 2010

rijalud dakwah

MAKALAH
RIJAL AD DAKWAH
Dipersentasikan pada:
Mata kuliah
Ilmu Dakwah 2












Disusun oleh:
Abdullah al Faqih
Firman Syah
Sihabuddin

JURUSAN KOMUNIKASI & PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010

Daftar Isi
Pendahuluan …………………………………………………………………………………2
Pembahasan ………………………………………………………………………………….
A. Sosok Rijal ad-Dakwah………………………………………………….4
B. Proses Pembentukan Rijal ad Dakwah…………………………………. 6
Penutup dan Kesimpulan……………………………………………………………………15
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………16















Pendahuluan
Menjadi si tikang-seru, juru Da’wah atau muballighul islam banyak memberikan pengertian, faham dan pegangan. Sepanjang perjalanan menempuh ridho Allah telah memperkaya diri dengan pengalaman, membajakan diri dengan keyakinan, malah mempertajam pemahaman.Menelan pahit getir, menempuh duri dan derita adalah resiko yang telah dijalani dengan hati yang ikhlas oleh seorang rijal al-Dakwah.
Tempo-tempo mendapat pujian dan sanjungan.Tempo-tempo dihempaskan oleh hinaan dan cacian.Kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Kegiatan berenang mengarungi dua gelombang, berjuang dan lalu ditengah dua-ufuk dunia yang bertentangan sanjungan dan ejekan, pujaan dan makian tak membuat padam api semangat api sang rijal al-dakwah dalam menegakkan kalimat-kalimat allah. Hanya satu kata bagi seorang rijal al-dakwah yaitu li i’lai kalimatillah.
Sorak sorai yang riuh gemuruh, tepuk tangan yang gagap dan gempita dari si orang banyak yang senang mendengar dan rela menerima. Diantara dua-ufuk itulah seorang juru dakwah atau muballiguhul islam lalu berjalan, melakukan tugas kepemimpinan perjuangan suci ini.
Dengan landasan surat al-Ahzaab ayat 39 yang berbunyi:

(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah , mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.

A. Sosok Rijal al-Dakwah

•
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang
Pembentukan rijalud dakwah atau kader-kader dakwah merupakan sesuatu yang mutlak untuk menggerakkan bangunan peradaban Islam yang kokoh yang melingkupi masyarakat Islam dan dunia.Sebuah bangunan yang kokoh yang membutuhkan landasan dan tiang-tiang yang kokoh pula.Tiang-tiang penopang masyarakat Islam adalah para kader dakwahnya.Namun karena tiang-tiang penopang ini adalah manusia dan bukan benda mati, maka penopangan yang diberikannya bersifat organis dan tidak kaku. Mereka tumbuh berkembang dan membentuk setrukturnya bersama-sama dengan perkembangan dan perubahan masyarakat.
Para kader dakwah ini memainkan peran sentral dan vital dalam menjaga dan mengawal umat menuju ketinggian cita-citanya, walaupun umat itu sendiri telah kehilangan kesadarannya dan telah berpaling dari cita-citanya mulia.Para kader dakwah terus saja bekerja sekuat tenaga membentengi umat ini agar tidak terjatuh ke dalam jurang neraka, walaupun umat terus saja menimpuki mereka dan mendesakkan diri kea rah kebinasaan. Mereka berusaha melakukan itu semua sebagaimana Allah juga telah melakukan hal yang sama terhadap mereka
•
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.( QS. Ali Imran 103)
Kader-kader dakwah selalu berada di barisan terdepan untuk melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya yang terang-terangan maupun terselubung. Mereka adalah ruhul jaded fi jasadi ummah, ruh-ruh baru di tubuh umat. Entah berapa malam yang mereka lalui, keringat yang mereka cucurkan, dan darah yang mereka alirkan untuk memikirkan dan membela nasib umat.Mereka tidak peduli walaupun umat yang tidak mengerti mencaci-maki orang-orang yang hendak menolongnya, karena mereka hanya menjalankan perinta Allah dan mengharap ganjaran-Nya. Mereka mencontoh Rasulullah SAW yang berdakwah untuk kebaikan kaumnya dan ketika mereka menyakiti beliau, sementara beliau punya kesempatan membalasnya, beliau malah berkata :
“Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya”
Tapi, dari manakah munculnya para kader dakwah ini? Apakah mereka muncul dari jalur panjang nasab yang turun-temurun?Tentu tidak.Mereka adalah orang-orang yang dikader secara khusus dan menimba ruh dakwah dari madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah.Mereka tidak muncul begitu saja tanpa usaha apapun, melainkan ditempa selama bertahun-tahun dan sepanjang hidupnya melalui pertemuan-pertemuan rutin dan kerja keras di lapangan.Mereka adalah perpaduan antara hidayah Ilahiyah dan Ikhtiar Tarbiyah.Bahkan para kader dakwah yang telah terbentuk ini kemudian berusaha mengkader keluarga mereka sedini mungkin.Mereka memilih calon-calon ayah dan ibu dari anak-anaknya yang juga memiliki visi dan semangat dakwah. Mereka mentarbiyah anak-anak sejak masih berada dalam kandungan sebagai upaya untuk melakukan “rekayasa genetic” bagi terbentuknya embrio-embrio da’I yang siap memimpin ummat dimasa depan.
Tarbiyah dan pembentukan kader dakwah terlalu vital untuk diabaikan, terlebih lagi dalam situasi umat yang begitu lemah pada saat ini. Pada hari ini, umat Islam telah mengalami disorientasi dalam hidup, mereka kehilangan daya juang, terjatuh dalam kelesuan berpikir dan beramal, terjerat dalam jebakan-jebakan politik, ekonomi, sistem sosial, dan pendidikan yang dirancang oleh musuh-musuhnya. Jumlah umat ini begitu besarnya, tetapi mereka melihat kocar-kacir dan berjalan sendiri-sendiri tak tentu arah.Mereka memegang kartu identitas keislaman tanpa adanya rasa identitas keislaman itu sendiri.

Kemudian setelah itu muncullah para kader dakwah yang telah tertarbiyah dengan baik ke tengah-tengah umat.Tak lama kemudian umat mulai menggeliat.Para kader dakwah tersebut berusaha menyatukan arus kekuatan umat, meluruskan orientasinya, mengorganisasikan, dan mensinergiskan seluruh potensinya menjadi sebuah gelombang dakwah yang menghentak dan mendobrak tembok-tembok kedzaliman dan kejahiliyahan.Itulah peran besar yang dimainkan oleh para kader dakwah manapun.Dan ketika gelombang kebenaran menghempas, maka mereka berdiri bershaf-shaf di garda terdepan.
Mereka berusaha membentengi umat sekuat tenaga agar tidak hanyut oleh pusaran kejahiliyahan.Tanpa peran para da’i sepanjang sejarah, serta izin Allah, mungkin bangunan ini sudah ambruk sedari dulu. Namun Allah berkehendak lain. Dialah yang menurunkan risalah terakhir bagi umat manusia dan Dia juga yang menjaganya lewat tangan-tangan para kader dan mujahid dakwah sepanjang masa.
B. Proses Pembentukan Rijal ad Dakwah
Sesungguhnya da'wah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya.Seharusnya kita mengakui, hal positif dan negatif dari manhaj teoritisnya yang dapat diambil pada buku-buku yang sudah disebarluaskan, bagaimana tingkat ketsiqahan anggotanya terhadap manhaj.Diantaranya adalah menganalisa suatu masalah, sebagaimana terlihat dalam sikap dan tindakan mereka.
Namun tindakan pribadi (fardi) juga berbagai pemyataan spontan atas berbagai masalah, hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan masyarakat secara umum. Sebab memang demikianlah tabi'at suatu pertumbuhan, yang juga erat dengan situasi kondusif yang mendukung prilaku tersebut. Di sini, akan kami paparkan contoh-contoh pribadi yang hendak dihasilkan Ikhwan melalui proses tarbiyah dan arahan mereka. Semua ini tentu saja terwujud setelah taufiq dari Allah swt.
1. Seorang Mujahid yang Menjadikan Da'wah sebagai Obsesinya
Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang dalam kondisi mempersiapkan dan membekali diri, berpikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berpikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam kondisi siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.
Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya.Berjihad di jalannya.
Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya.Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya.Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di balik perjuangan.
Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."
2. Da’i Yang Bergerak Karena Allah swt.
Adalah da'i yang berlari memohon syahadah kepada Allah swt .di saat melakukan tugas da'wah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi radhiallahu'anhu yang menda'wahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:


"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)
Ketika ia menyatakan diri masuk Islam, sekaligus menda'wahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.
3. Da’iyah yang Memiliki Semangat Tinggi
Anggota harakah Ikwan, harus mempunyai semangat tinggi sebagaimana semangat al-Aslami adhiallahu ‘anhu yang pernah diceritakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah : “Bila anda ingin melihat tingkatan semangat, lihatlah semangat Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami radhiallahu'anhu. Rasul saw. berkata: "Mintalah kepadaku." Ka'b mengatakan: "Aku ingin menjadi pendampingmu di.surga." Sementara orang lain ada yang meminta makanan dan pakaian.
4. Da'i yang Memegang Teguh Janjinya
Seorang akh, dibina untuk mengerti dan melaksanakan sikap shidiq, sebagai sikap mulia para sahabat ridhwanullahi'alaihim.Seperti kisah Anas bin Nadhr radhiallahu'anhu yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Bahwa Anas bin Nadhr, absen dalam peperangan Badar. Beliau mengatakan:
"Aku tidak ikut dalam perang pertama yang disaksikan Rasulullah saw. Bila Rasulullah kembali berperang melawan kaum Quraisy setelah Badar, niscaya Allah 'Azza wa Jalla akan memperlihatkan apa yang akan kuperbuat."
Di saat perang Uhud, ummat Islam menderita kekalahan. Seseorang berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz radhiallahu'anhu: "Wahai Sa'ad hendak kemana anda?" "Saya ingin menghampiri aroma surga di balik Uhud.'Sa'ad berangkat hingga syahid. Di tubuhnya terdapat lebih dari delapan puluh luka akibat pukulan pedang, tombak dan anak panah. Hingga jasadnya tak dikenal lagi oleh saudari perempuannya, kecuali melalui pakaiannya.

Lalu turunlah firman Allah swt. :
••
“Di antara orang-orang mu'min ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah janjinya.”
(QS. aI-Ahzab: 23)
5. Seimbang dalam Semua Kondisi
Ikhwan membina anggotanya agar memiliki sikap berani, namun tidak mengabaikan sikap hati-hati, jauh dari sikap sembrono dan emosional .Mungkin sedikit manusia yang.dapat seimbang melakukan hal ini. Seorang yang dibiasakan bersikap pemberani, selalu berusaha memutuskan seluruh rintangan yang mengikatnya.Mereka juga memiliki keta'atan tinggi yang diikat oleh kesadaran syar'i yang cermat, jelas, tidak serampangan dan bukan sikap mengikut buta.
Di sisi lain, anggota Ikhwan selalu memelihara potensi yang Allah anugerahkan pada dirinya. Seorang Ikhwan secara khusus mengerahkan semua kekuatannnya kepada seluruh yang mendatangkan manfaat kepada da'wah.Penyaluran potensi itu tidak dibiarkan tanpa kendali, tanpa arah dan tujuan yang jelas.Ikhwan senantiasa mengiringinya dengan langkah takhtith (perencanaan) matang.
6. Da'i yang komitmen terhadap petunjuk nabawi
Seorang da'i yang berjalan di atas jalur syari'at, tunduk kepada sunnah, menjauh dari prilaku bid'ah dan semua yang tidak diperintahkan .oleh Rasulullah saw. Tindak tanduknya, sebagaimana petunjuk hadits Nabawi.la mengambil agamanya dari mata air Islam yang jernih dan minum dari sumber keimanan.
Bila ditanya tentang prinsipnya, ia mengatakan: “Ittiba’”. Bila ditanya tentang pakaiannya, ia mengatakan: "Taqwa." Bila ditanya tentang maksud serta tujuannya, ia mengatakan: "Ridha Allah." Dan bila ditanya di mana ia menghabiskan waktunya di waktu pagi hingga petang, ia menjawab:

"Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang."
(Qs. an-Nur: 36)
Dan di medan da’wah serta mengembalikan manusia ke jalan al-haq. Bila ditanya tentang nasabnya, ia mengatakan:Orang tuaku adalah Islam. Tidak ada orang tuaku selainnya. Sementara orang bangga dengan keturunan Qais atau Tamim
7. Da’i yang Sabar
Ikhwan terbina dengan akhlaq sabar , sehingga di awal perj alanannya, salah seorang Ikhwan telah mengetahui apa yang diucapkan Ibnul Qayyim rahimahullah: "Sesungguhnya sikap untuk lebih mengutamakan ridha Allah, pasti akan berhadapan dengan permusuhan manusia, siksa, bahkan upaya mereka untuk membunuhnya. Yang demikian adalah sunnatullah di antara makhluk-Nya.
Bila tidak demikian, lalu apa dosa para Nabi dan Rasul yang memerintahkan keadilan di antara manusia dan menegakkan agama Allah ?" Maka barangsiapa yang lebih mengutamakan keridhaan Allah, niscaya ia akan memperoleh permusuhan dari orang alim yang jahat, manusia yang menyimpang, yang bodoh, pelaku bid'ah, yang banyak berdosa, dan penguasa bathil.
Barangsiapa berpegang teguh pada Islam secara sempurna, ia tak dapat digoyahkan oleh manusia bahkan gunung sekalipun. Tak dapat dihalangi oleh berbagai ujian., kekerasan dan rasa takut.
Mereka mengetahui bahwa kesabaran dapat dilakukan melalui dua perkara: tarbiyah atas sikap zuhud di dunia dan zuhud terhadap pujian. Tidaklah seseorang itu melemah, atau terlambat, dalam jalan ini, kecuali karena kecintaannya yang demikian besar pada kehidupan, kekekalan, serta kecintaannya pada pujian manusia dan upaya menjauhi kecaman mereka.
Jalan ini, bagi mereka, merupakan jalan yang pasti berhadapan dengan pendustaaan, pengusiran, dan siksaan, seperti ungkapan Ibnul Qayyim al-Jauzi rahimahullah: "Seseorang yang berlalu menuju Allah swt. adalah sebagai uswah. Dan itulah predikat yang sangat mulia.Seorang yang berakal cerdas rela beruswah kepada para Rasulullah, para Anbiya, Aulia, dan orang-orang yang dipilih Allah dari para hamba-Nya.
"Merekalah kelompok manusia yang paling berat ujiannya.Siksaan manusia terhadap mereka, lebih cepat berjalannya dari pada air mata. Cukuplah, contoh kisah yang disebutkan tentang perjuangan para Anbiya alaihimus salam bersama ummat mereka, juga perjuangan Rasulullah saw. Bagaimana siksaan musuh-musuh terhadap mereka.Siksaan berat yang belum pemah menimpa orang sebelum mereka."
Waraqah bin Naufal pemah berkata kepada Nabi saw.,"Engkau pasti akan didustai, diusir dan disiksa." Kemudian beliau bersabda: 'Tak seorangpun yang datang sebagaimana yang aku perjuangkan kecuali ia akan mengalami kondisi serupa dengan apa yang kualami."Hukum ini berlaku hingga kepada para pewaris-pewarisnya.Tidakkah seorang hamba ridha menjadikan hamba terbaik Allah swt.sebagai uswahnya.
8. Pemberi Infaq yang Tidak Kikir Terhadap Da'wahnya
Sebagaimana disifatkan oleh pemimpin mereka Imam Hasan al-Banna rahimahullah: "Mereka tidak kikir terhadap da'wah, meski harus mengeluarkannya dari jatah makanan anak-anak mereka, mengucurkan darah mereka, atau harga mahal untuk kebutuhan primer. Apalagi dari kebutuhan sekunder, dan keperluan yang tidak mendesak.
Mereka, tatkala menanggung beban da'wah ini, benar-benar mengetahui bahwa ia merupakan jalan da'wah yang tidak mungkin dilalui dengan sedikit pengorbanan darah dan harta. Maka mereka keluarkan hal itu seluruhnya karena Allah swt.
Singkatnya, seorang al-akh dari mereka tengah melakukan perjalanan menuju Allah swt.bersama kelompok al-haq dan kafilah tauhid. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keyakinan besar, para pendidik, manusia yang sadar, dan berpegang teguh kepada Islam, yang sedang mempersiapkan diri dengan ilmu, keahlian untuk berangkat berjihad.Masing-masing berlomba untuk bcrangkat, dan bila mereka berangkat mereka lakukan dengan penuh itqan.
Jika mengalami situasi sulit dalam peperangan, mereka bersabar. Mereka tidak akan rela hingga da'wah mencapai tujuannya. Meskipun mereka harus memeras seluruh kemampuan dan pemikiran mereka habis- habisan.
Bila mereka memberi perintah, perintah mereka kosong dari sikap memaksa.Dan bila mereka taat kepada perintah, ketaatan mereka terlepas dari sikap merasa hina.Bila mereka melontarkan kritik, kritik mereka jauh dari perusakan dan penghancuran.
Memiliki disiplin tinggi, teratur, para murabbi, perancang strategi menuju sasaran yang jelas, orang-orang teguh pendirian, komitmen, yang bila diberi amanah sebagai pemimpin mereka lakukan dengan ikhlash, jika diposisikan sebagai prajurit, mereka lakukan dengan penuh ketaatan.Setiap masing-masing mereka mampu berpikir untuk terus meningkatkan kemampuannya secara seimbang untuk selalu berupaya mengatasi masalah yang dilihatnya, mengambil hukum suatu pekerjaan dan aktivitas dari pikirannya.Mereka merasa bertanggung jawab untuk membela Islam.Puas dengan jumlah yang sedikit.
Dalam jiwa mereka terdengar sebuah prinsip yang begitu indah,

“Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat." (QS. ash- Shaff: 13)
Betapa mereka bekerja keras di waktu siang, betapa indahnya lantunan "seruling" mereka, yang mereka ambil dari keluarga Daud pada waktu sahur. Kemudian saat mereka berhadapan dengan orang yang bengis dan keras, perkataan mereka adalah:
•
Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (QS. Shaad: 11)
Mereka bertolak ke arah yang jelas, bergerak bersama sikap komitmen dengan ketaqwaan.Sumpah setia mereka sejati, ketaatan mereka bukan keterpaksaan tapi kesadaran, pandangan mereka penuh prhitungan, wawasan pemikiran mereka luas dan tidak sempit.Masing-masing berprinsip menjadi pendukung setia terhadap pemimpinnya, cita-cita mereka adalah bertemu dengan Rabb sebagai syuhada.Mereka memandang tanggung jawab syari'at sebagai penyejuk mata, penyenang hati, penghidup ruh, mencampakkan sistem thagut dan undang-undang yang bathil.
Para rijal yang selalu memerangi kehendak nafsu mereka.Hati mereka rindu pada ketaqwaan, merasa tenang dengan dzikir.Mereka mengetahui bahwa jihad adalah aplikasi kerahbaniyahan Islam.Karenanya mereka persiapkan diri dengan senjata, dan mereka hunus pedang, mereka bentangkan busur.
Mereka mengetahui bahwa arwah mereka akan kembali diantara penghuni kubur, mereka tinggalkan bangunan dunia, semangat mereka meninggi dan prilaku mereka menjadi lurus. Mereka adalah junudullah (tentara Allah) di manapun berada.
Mereka adalah para imam, pemberi petunjuk, dan pemimpin kaum beriman.Mata mereka sering terjaga di waktu malam, dan mata mereka kerap mengucurkan air mata.Berbahagialah orang yang berada dan berpegang teguh bersama mereka.
Para rijal yang komitmen dengan seruan Rasulullah saw, secara bathin dan zahir. Mereka berpendirian sebagaimana Rasul berpendirian.Mereka berjalan sebagaimana Rasul berjalan.Mereka ridha dengan keridhaan Rasul.Menyambut seruannya bila Rasul menyeru mereka.
Landasan madzhab mereka adalah al-Qur'an dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu, bid'ah, berpegang teguh dengan para imam dan berqudwah pada para salaf. Meninggalkan perbuatan bid'ah, berpendirian diatas apa yang ditempuh para generasi awwalun dari para sahabat, pembela Islam, sumur keimanan, inti sikap ihsan.Pengetahuan mereka murni mengambil dari misykat wahyu dan hadits Rasulullah saw.
Para rijal yang meyakini bahwa mempelajari ilmu ikhlash karena Allah dapat melahirkan khasyiah (ketakutan), sehingga menuntut ilmu merupakan ibadah, mudzakarah mereka adalah tasbih, pembicaraan mereka adalah tentang "jihad" .Mereka menuntut ilmu hingga terkuaklah hijab yang menyelimuti hati mereka, sirna kegelapannya, berganti dengan fajar tauhid dan terpancar di dalamnya matahari keyakinan.
Jalan di hadapan mereka menjadi terang benderang, malamnya laksana siang.Hati dan jiwa mereka bangkit memperoleh al-Haq, dan meninggalkan selain-Nya.Terlepas dari semua iradah mereka.















Penutup dan kesimpulan
Alhamdulilah dengan selesainya makalah ini agar bagi para pembaca dapat lebih tergerak hatinya untuk memperjuangkan kalimat Allah SWT yang telah diwhyukan kepada sosok rijal al-Dakwah yang paling hebat dan sempurna yakni Nabi Muhammad saw. Dan dengan mengetahui proses yang handak dimiliki dan ditanamkan dalam hati rijal al-Dakwah yang talah dibahas didalam makalah ini menjadikan sedikit acuan untuk membukan hati para mad’u yang sangat ragam dan unik. Sebagai landasan kami penulis yakni:
•
.Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha mengetahui segala yang ghaib".

Katakanlah: "Jika aku sesat Maka Sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk Maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Dekat".









Daftar Pustaka

K.H.M. Isa Anshari, Mujahid Dakwah. Cv diponogoro. Bandung 1991

Ihya Ulumudin. Darul kitab al-alamiyah Bairut hlm 36

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Dasar-dasar Ilmu dakwah 2 Abdul Karim . Meia dakwah Jakarta Pusat 1983

Imam Habib al-Haddad al-Dakwah al-tammah kelengkapan dakwah. Toha Putra Semarang 1980

Imam al-Maturidi.Qomi’ al Tughyan. Al-haromain hlm 45