Selasa, 02 November 2010

abstrak

Komunikasi Sebagai Proses Budaya
Media Televisi Membentuk Karakter, Identitas Bangsa
ABSTRAK
Nama : Abdullah al-Faqih Dosen : M. Yusfik, MA
Nim : 108051000182 Mata Kuliah: SKI
Dirasakan atau tidak kemunculan televisi yang beredar di masyarakat kini mulai membuat sebagian kita kehilangan identitas dan lupa akan jati diri sendiri sebagi bangsa yang mempunyai aneka ragam budaya. Terbukti, banyak generasi muda kita yang akhir-akhir ini banyak melakukan prilaku menyimpang yang secara garis besar, perilaku menyimpang tersebut diadopsi dari televisi. Meskipun begitu, di sisi lain televisi juga mempunyai fungsi sebagai penyedia informasi dan edukasi yang aktual dan mendalam. Dengan demikian, Bagaimana caranya agar masyarakat Indonesia tetap mencintai budaya sendiri? Apakah dampak yang terjadi apabila masyarakat telah meningalkan budayanya sendiri? Apakah pemerintah juga ikut bertangungjawab dengan mengontrol tanyangan yang ada di televisi? Dan Siapakah yang mempunyai peran penting agar generasi muda dapat membedakan antara budaya asli sebagai identitas diri dengan budaya asing? Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya (Koetjaraningrat,1997)”. Dan kebudayaan adalah sebagai ciri khas dari suatu bangsa. Nationalism atau Tribalism adalah teori yang digunakan yaitu suatu kelompok atau masyarakat yang ingin membangun bangsanya atas dasar ikatan suku. Lawan dari nationalism atau tribalism adalah universalism atau internationalism yaitu kelompok atau masyarakat yang menghendaki pembaruan dalam suatu Negara. Masyarakat Indonesia adalah kebanyakan mempunyi sifat untuk ingin meniru sesuatu yang baru, memiliki karakter yang heterogen. Meskipun komunikasi lewat televisi adalah jenis komunikasi yang satu arah” ketika sesuatu yang dimunculkan oleh televisi adalah bersifat trend center. Maka, semakin besar keinginan mereka untuk mencobanya. Ironisnya masyarakat kini sukar membedakan mana yang bisa diterapkan di lingkungan sekitar dan yang mana yang seharusnya ditinggalkan karena menyimpang dari norma-norma yang ada dimasyarakat. Solusi agar masyarakat kita tetap mencintai budaya sendiri adalah dengan cara memperkenalkan lebih dalam tentang beragam budaya yang dimiliki oleh Bangsa kita dan dengan menerapkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat disetiap aktifitas. Dengan demikian, kita bisa mengadopsi budaya asing dengan tampa mengeyampingkan norma yang berlaku dalam masyarakat sebagai pondasi akar budaya kita. Jika masyarakat telah mengenyampingkan budaya sendiri dengan mengambil budaya asing tampa adanya filterisasi dalam diri sendiri. Maka, mereka sesungguhnya telah melakukan tindakan yang menyimpang dan secara tidak langsung meruntuhkan benteng Negara yang sejak dahulu telah dibangun oleh pejuang dan leleuhur. Pemerintah seharusnya juga ikut serta dalam mengembangkan dan memperkaya budaya yang telah ada. keikut sertaan pemerintah dalam menjaga budaya tentu sedikit banyak memberi pengaruh terhadap mati dan berkembangnya budaya. Dengan mengikuti dan mengontrol tayangan televisi misalnya dengan lebih memperhatikan LSF (lembaga sensor Film) dalam menjalankan tugasnya. Selain pemerintah, keluarga adalah yang tentu mempunyai peran yang sangat penting dalam memonitoring generasi muda. Sebab, keluarga merupakan orang yang terdekat dan mempunyai pengaruh yang besar dibandingkan lainya, termasuk juga lingkungan dan patner bermain. Keywords : kebudayaan, Televisi, Norma-norma, Pemerintah, Keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar