Minggu, 21 Maret 2010

PEREMPUAN INDONESIA MENGHADAPI TANTANGAN ABAD 21”

Abad 21 merupakan Era pancaroba bagi sebagian banyak individu yang ada dinegara tercinta, baik laki-laki maupun perempuan. Semakin pesatnya pemberdayaan manusia yang kian tampa batas dan pesatnya pertumbuhan kecanggihan teknologi membuat individu harus mensinergikan dirinya dengan perkembangan teknologi yang lambat hari mendekati titik kesempurnaan. Ini menjadikan kualitas manusia semakin sangat dipertimbangkan, jika mempunyai keinginan untuk meraih mimpi menjadi seseorang yang sukses bahagia didunia dan diakhirat.

Siapapun bias mendapatkan keberhasilan, jika usaha yang ditempuh melalui sebuah konsep yang matang dan kedekatan spiritual terhadap Allah SWT pemilik seluruh kerajaan yang ada di alam dunia dan alam akhirat. Dalam sebuah kata mutiara yang teramat indah dilantunkan oleh seorang Ulama Salaf yakni الاجر بقدرتعب yang artinya kesulitan yang ditempuh seseorang menghasilkan kemuliyaan dan keberhasilan berdasarkan seberapa sulit ia berusaha meraih keberhasilan tersebut. Tidak memandang baik laki-laki maupun perempuan semua sama dalam kacamata islam.

Mesikupun dalam sebuah realita social wanita hanya menjadi second person dibawah baying-bayang lelaki. Bukan berarti itu menjadi sebuah qoidah pasti dan mutlaq dalam kehidupan dimasa yang akan datang, seorang wanita seharusnya mempunyai kepribadian yang cakap dan juga skil yang matang dalam menghadapi segala tantangan zaman. Multi fungsi tepatnya yang kini sangat esensial yang harus dimiliki wanita masakini. Sebab, dengan segudang kemampuan yang dimiliki bukan berarti tidak mungkin kaum wanita dapat menandingi kaum laki-laki yang kian mendomisili segala bentuk kegiatan yang ada di Negara Indonesia, dan bukan sebuah kemustahilan apabila wanita yang seperti ini akan banyak andil dalam pemerintahan dinegara tercinta.

Multi fungsi disini adalah seorang wanita yang mana bias menempatkan diri pada tempatnya. Dimana dia berada, kapan dia harus berpendapat dan sikap bagaimana yang harus ditunjukan. Bukan wajah cantik dan bentuk tubuh yang aduhai yang dapat membuat lawan jenisnya tercengang. Tetapi, seberapa jauh wanita dapat menjadikan dirinya diatas puncak prestasi dan kemuliyaan sehingga, paradigma yang mengatakan bahwa wanita adalah second person bagi laki-laki itu terbantahkan oleh kecerdasan otak dan kewibawaan yang ada.

Ada sebuah pendapat Futurolog yang menyatakan bahwa: “abad 21 merupakan abad perempuan” sepatutnya dapat menjadi refleksi bagi kita untuk menganalisis perjuangan dan masa depan perempuan. Seakan akan ramalan tersebut mengandung arti yang tersirat bahwa perempuan akan menghadapi tantangan yang semakin besar, dan jika memang benar maka perempuan Indonesia harus menyambut abad ini dengan penuh optimism dan emansipasi.

Jikalau pada zaman Rosululloh saw telah lahir seorang pejuang wanita yang tidak lain adalah isteri Rosululloh saw itu sendiri yang bernama Saidatina A’isyah. Beliau membuktikan bahwasanya wanita juga dapat berperan dalam bidang dakwah sepertihalnya laki-laki dan Saidatina a’isyahpun menjadi seorang perawi wanita pertama dan seorang pejuang islam pertama dalam menyebarkan dakwah islam.

Santun, sopan, tegar, dan cerdas juga taat kepada Allah dan Rosululloh menjadikan beliau mempunyai kepribadian yang patut ditiru oleh semua wanita diseluruh dunia dan bahkan kata sahabat jika saja seorang wanita dibolehkan menjadi seorang kholifah pasti Siti A’isyah akan diangkat menjadi kholifah dari kalangan perempuan pertama. Sekaligus ini membuktikan ke-Afsahan al-Qur’an yang berbunyi: النساء من قوامون الرجال

Emansipasi yang ditunjukan oleh para wanita dengan bertumpu pada jasa ibu Kartini seharusnya tidak menjadikan perempuan melenceng dari asal kodratnya. Bukan berarti ketika perempuan telah mengenyang pendidikan yang tinggi dapat menjadi imam dalam solat, jika saja laki-laki yang ada disekelilingnya tidak memiliki pendidikan yang setara dengan dirinya. Dalam pandangan islam tidak seperti itu, tetapi islam memberikan pilihan yang harus diambil dan dijalankan pada bagiannya masing-masing. Ini bukan menunjukan bahwa islam tidak demokrasi dengan para perempuan melainkan rahasia dari aturan yang seperti itu yang terkadang tidak kita ketahui dan kemudian hanya dipandang melalui sudut pandang kepentingan kaum dan pribadi.

Kesetaraan dalam bidang pendidikan dan campur tangan perempuan dalam Negara pun telah disamakan dengan laki-laki, tinggal bagaimna seorang perempuan dapat mengambil kesempatan dan menggunakan dengan baik serta membuktikan pada masyarakat Indonesia bahwasanya yang berhak atas kemajuan Negara Indonesia bukan hanya laki-laki saja tetapi juga milik perempuan.

Sifat sabar dan teliti juga bertanggung jawab seorang wanita juga seharusnya menjadi bobot terbesar dalam membangun kepribadian yang terbaik yang dimiliki para wanita diseluruh dunia untuk menunjukan taringnya dimata dunia.

Sekilas bermuwajjahah atau bercermin dan mengambil I’tibar dari seorang pahlawan revolusi kaum wanita ibu Kartini yang semua orang tau dan kenal nama yang sangat tersohor itu, tentu kita juga tahu siapa sebenarnya wanita yang diagung-agungkan oleh para perempuan itu. Ibu Kartini tidaklah lain adalah seorang santri wati dari guru yang bernama KH. Sholeh Ndarat, ibu kartini belajar mengaji surat fatehah dan meminta kiyainya tersebut menafsirkan surat al-Fatehah dan sebelum KH. Sholeh selesai menafsirkan surat al-Fatehah tesebut beliau terlebih dahulu meninggal dunia. Dan kemudian timbullah aspirasi dari ibu Kartini untuk meneruskan perjuangan gurnya tadi.

Maka dari itu secara tidak langsung bagi para perempuan dalam menghadapi Abad 21 ini selain mempunyai skil dan kecerdasan yang hebat juga harus mempunyai beground keislaman yang kuat juga, sebab, dengan dibekali ke-islaman yang bagus tentu akan menimbulkan etos kerja yang bagus juga dan untuk berdekatan dengan hal-hal yang dapat menjatuhkan Muru’ah itu dapat dijahui dengan cara yang baik juga.

Bangkit dan semnagatlah semua perempuan Indonesia guna menyambut Abad 21 yang penuh dengan tantangan dan rintangan yang besar. Semakin tinggi pohon tumbuh maka semakin besar juga angin yang akan menimpa pohon tersebut. Optimis dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT hendaklah selalu melekat dalam sanubari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar